Masjid Istiqlal dibangun selama 17 tahun!

Masjid Istiqlal dibangun selama 17 tahun!

masjid istiqlal

masjid istiqlal merupakan masjid terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Dikenal sebagai salah satu landmark ibu kota Jakarta, masjid ini terletak di seberang Gereja Katedral dan Gereja Immanuel.

Dalam sejarah bangsa Indonesia, Masjid Istiklal telah menjadi bangunan dengan berbagai nilai penting, seperti nilai ilmiah, nilai pendidikan dan nilai agama.

Lantas bagaimana sejarah Masjid Istiklal di Jakarta? Berikut komentar yang dikutip dari laman resmi masjid istiqlal

Sejarah Masjid Istiklal

Ide pembangunan Masjid Istiklal pertama kali dicetuskan oleh KH, menteri agama pertama di Indonesia. Wahid Hasyim dan beberapa ulama pada saat itu.

Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, muncul keinginan untuk membangun masjid yang bisa menjadi lambang negara Indonesia. masjid istiqlal

1953, KH. Wahid Hasyim bersama H. ​​Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto dan Ir. Sofwan dan dibantu oleh sekitar 200 tokoh Islam yang dipimpin oleh KH. Taufiqorrahman mengusulkan sebuah yayasan.

Kemudian pada tanggal 7 Desember 1954, berdirilah Yayasan Masjid Istiklal, di bawah naungan H. Tjokroaminoto, mewujudkan ide pembangunan masjid nasional.

Selanjutnya H. Tjokroaminoto menyampaikan kepada Presiden Ir rencana pembangunan masjid tersebut. Soekarno. Usulan tersebut disambut hangat dan akan dibantu penuh oleh Presiden pertama Republik Indonesia.

 

Saat itu, Ir. Soekarno juga ditunjuk sebagai ketua jurusan teknik pembangunan masjid Istiqlal dan ketua dewan juri yang menilai lomba model Istiqlal.

Sumber lain, mengutip detiknews, mengatakan bahwa gagasan masjid besar di ibu kota muncul sebelum pembacaan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Bung Karno mengatakan bahwa suatu ketika pada tahun 1944, beberapa ulama dan tokoh Islam bertemu dengannya di Pegangsaan Timur 56, yang merupakan kediamannya saat itu. Ulama mengundangnya untuk membangun masjid besar di Jakarta. masjid istiqlal

Ulama meyakinkan Boncano bahwa mereka dapat meminta bayaran untuk pembangunannya. Mereka bahkan mengatakan bahwa sudah ada dana awal sebesar 500.000.

Selain itu, banyak calon donatur yang telah menyatakan komitmennya dalam bentuk kayu, genteng, kapur dan bahan bangunan lainnya.

Seperti dikutip dalam biografi Friedrich Silaban, Boncano saat itu menyatakan bahwa gagasan pembangunan tidak dapat diwujudkan dengan sumber daya yang terbatas. Saat itu, Soekarno berpandangan bahwa masjid agung yang akan dibangun di masa depan harus kuat.

“Mari kita bangun masjid Jamie yang akan bertahan seribu tahun, mari kita bangun masjid Jamie yang akan bertahan seribu tahun, jangan pikirkan kayu dan ubin,

jangan membangun masjid atau sukas seperti masjid Xianyu atau Cipanas Bumi atau kota lain. Kota kecil. Ini Masjid Jamie Jakarta.” masjid istiqlal

Menurut Boncano, masjid besar di ibu kota tidak bisa begitu saja dibangun dengan kayu dan genteng yang akan runtuh di masa depan karena cuaca.

“Mari kita bangun Masjid Jami yang benar-benar tahan terhadap goresan waktu, seribu tahun, dua ribu tahun, dan untuk itu kita harus membangunnya dengan bahan-bahan seperti besi, beton, perunggu, marmer, dll.”

Setelah kemerdekaan, dibutuhkan waktu untuk mempersiapkan pembangunan. masjid istiqlal

Penetapan pemenang desain gedung baru dilakukan pada tahun 1956. Sumbangan sukarela juga dikumpulkan ketika pemenang diumumkan di Istana Negara pada malam tanggal 3 April 1956.

Puncak pertemuan setelah Boncano naik ke panggung mengumumkan bahwa Bu Ali Sastroamidjojo atau Titi Roelia akan menyanyi. Suara Bu Ali akan dibeli oleh pemilik Dasaad Musin Concern, pengusaha Agus Musin Dasaad seharga Rp 100.000. masjid istiqlal

Pembangunan masjid Istiklal yang baru sebenarnya bisa direalisasikan lima tahun setelah desainnya jadi.
Debat Soekarno-Hatta Soal Lokasi Masjid Istiklal

Masjid yang terletak di Jl. Taman Wijaya Kusuma, Ps. Baru, di distrik Shawa Besar di Jakarta Pusat, pernah membuat Soekarno dan Hatta bertengkar.

Bangkano dan Banghata, yang merupakan wakil presiden Republik Indonesia saat itu, memperdebatkan lokasi masjid.

Bung Karno mengusulkan untuk menempatkan Masjid Istiqlal di atas bekas benteng Belanda Frederick Hendrik, dengan Taman Wilhelmina antara Jalan Perwira, Jalan Banteng, Jalan Katedral dan Jalan Veteran.

Sedangkan situs yang diusulkan Bung Hatta untuk membangun masjid adalah di Jalan Thamrin yang saat itu dikelilingi oleh banyak desa.

Namun pada akhirnya Presiden Soekarno memutuskan untuk membangun di atas tanah bekas benteng Belanda tersebut.

Karena di seberangnya berdiri Katedral yang didesain untuk menunjukkan kerukunan dan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia.
Dibangun pada tahun 1961

Setelah lokasi ditentukan, baru pada tanggal 24 Agustus 1961 Presiden Sukarno membuat tiang pertamanya. masjid istiqlal

Tanggal ini bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad. Ribuan umat Islam menyaksikan pendirian tiang pertama.

“Masjid Istiklal akan terbang di langit dan menjadi kuat dan setiap orang yang datang ke masjid akan berkata, wow, masjid yang hebat, tentu saja itu dibangun oleh negara yang berjiwa besar,” kata Bang Kano di postingan pertama. peristiwa.

Dalam proses pembangunannya, Masjid Istiklal mengalami banyak kendala. Dalam lima tahun pertama dari tahun 1961 hingga 1965, pembangunan tidak banyak mengalami kemajuan.

Karena situasi politik yang tidak mendukung, pembangunan masjid terhenti. Puncaknya terjadi pada tahun 1965 saat pecahnya insiden G30S/PKI. Hal ini menyebabkan pembangunan masjid terhenti. masjid istiqlal

Selesai setelah 17 tahun

Pada tahun 1966, setelah situasi politik mereda, Menteri Agama KH. Muhammad Dahlan adalah orang pertama yang membangun kembali masjid tersebut.

Kepengurusan dijabat oleh KH. Idham Chalid adalah Koordinator Komite Nasional Pembangunan Masjid Istiklal.